Terpaksa Rehat
________
Never Give Up!
Thanks For Today!
Tapi sebelum hari H mendadak naila drop dan memutuskan untuk berobat.
Nuhya Jatuh Cinta
Bahaya Meremehkan Dosa
- Kehancuran bagi pelakunya.
- Dosa besar.
Idola "mengidolakan"
Dikiranya aku followersnya taqy kali yak? *Dukpuk (tepok jidat)
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim)
Tak ada salahnya mengidolakan seseorang, asalkan jangan berlebihan dalam bersikap dan tak lupa; Idolakanlah pada orang yang tepat!
Semoga dengan ini, kita bisa lebih waspada dalam memilih idola.
Wallahu a’lam bisshowaab wa Baarakallahu fiekum!
#30Haribercerita #cerita02
Kirain Gombal
#30hariBercerita
#Cerita01
Mengenal Darah Haid
Morning March
Ekspresiku
Prolog
“Akhyar..!” ini sudah panggilan ketiga Zabil sahabatnya.
Namun tampaknya Akhyar masih asik dalam lamunan sehingga ia tidak mendengar
teriakan darinya.
“Oi..! Pagi-pagi sudah melamun saja!” Menepuk pundak sahabatnya. Lagi-lagi Akhyar tak menyadari kedatangan Zabil di belakangnya.
Sentuhan tangan dan sapanya membuyarkan lamunanku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering menikmati hobi baruku; yap betul sekali! hobi baruku adalah melamun. Sambil menikmati kesunyian hati, biasanya aku menyembunyikan diriku di balik jendela. Tapi rupanya hobi baruku tercium juga olehnya.
“Zabil! Kamu merusak moodku.” ucapku
kesal.
“Melamun kok pake mood segala. Kalo mood ente lagi baik, engga mungkin bakal melamun.” Ucapnya seraya mengacak-acak rambutku.
“Engga baik lho terus-terusan melamun, takut
diganggu setan!” Imbuhnya seraya menarik kursi dan mengambil posisi duduk disebelahku
“Iya.. iyaa.. ck.. ” aku berdecak malas
“Kenapa sih, ana perhatikan akhir-akhir ini ente sering melamun?”
“Engga sih, lagi sedikit galau aja.”
“Sedih sih boleh, asal jangan berlarut-larut; takutnya nanti menjadi celah bagi setan
untuk terus menghasut ente. Dan ditakutkan ente semakin jauh dari Allah.” “Hayuk ah.. Semangat.. Semangaattt..!! Takbir..!!”
ucapnya sembari menarik tanganku mengudara.
“Semangatt..” ucapku tak bergairah.
“Nah, gitu dong..! jelek tau muka ente di tekuk muluk.”
Tawanya gemas membekap leherku dari samping dengan tangan berototnya.
“Iya bang..”
“Yah kalau ente engga keberatan, boleh kok ente berbagi cerita sama ana.
Insyaa Allah ana siap membantu, dan mungkin setelah itu ente bisa merasa lebih plong. Tapi semisal ente takut nih yaa kalo ana engga bisa jaga rahasia,
curhatlah sama Allah. Karena Ialah sebaik-baik pendengar.”
Memang,
rupanya aku tidak salah pilih saat memutuskan untuk besahabat dengannya. Maa
syaa Allah darinya aku mendapatkan banyak pelajaran. Bahkan untuk hal-hal
kecil yang selalu ku anggap remeh dia pasti bisa melihat tiap sisi baiknya.
Sejak kecil kami sudah berteman. Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat bukan?. Ku akui selama aku mengenalnya aku tak pernah mendapatinya mendengar nasihat ataupun ceramah darinya. Yaa aku sering menyebutnya demikian. Bagaimana tidak, dia lebih cocok untuk menjadi khatib jum’at ketimbang teman yang dapat membawaku dalam gelak tawa.
Sosoknya yang santun, cerdas, hangat lagi bersahabat selalu membuatku nyaman bercengkrama lama dengannnya. Setiap nasihat yang ku dengar darinya benar-benar dapat diterima, lebih bersahabat dan terkesan tidak menggurui. Hanya saja, terkadang saat imanku sedang melemah seringkali egoku mengambil kuasa. Jujur, hati kecilku tidak pernah merasa bosan dengannya, hanya saja ucapanku sering menghianati. Aku marah. Aku emosi, terhanyut dalam suasana buruk ku sehingga sikapku ternodai.
“Sebenarnya aku lagi kangen sama Umma.” Ungakapku terkesan sok tegar. Seraya Memalingkan wajah dan menatap kedepan. Berharap ia tidak mendapati genagan dalam kelopak ku. Aku tidak mau ia melihatku sedang menangis. Akkh, mengapa aku menjadi lelaki yang cengeng sekali? Batinku mencemooh diri.
Hai kamu, Apakabar?
Hujan dan Kenangan
Metamorfosa
Pada masanya pernah aku sempat tersingkir dari jalannya
Saat cahaya pergi kutalak dengan sombongnya.
Pernah pada masanya aku lupa mengontrol diri,
Terlena pada kebebasan yang kucipta sendiri.
Pernah pada masanya aku melakukan sesuatu sepuas nafsu,
Ketika ku rasa ada yang menyenangkan dibalik maksiat yang jadi candu.
Pernah ada masanya…
Akal bodohku penuh angan-angan tentang dunia dan cinta yang buta
Juga tentang si "dia".
Pernahpun ada masanya, aku terbujuk;
Untuk berbicara dan tertawa pada lelucon yang tak seharusnya.
Pernah pula pada masanya, Si bodoh ini merasa paling benar dan pintar
Laiknya dulu kisah seorang hamba yang sholih dengan rabbnya.
Pernah aku berdusta untuk sedikit kesenangan yang menipu,
Pernah aku berdiri dengan konyolya sebagai penuntut hak hawa nafsu atas nama ‘keadilan’
Pernah aku merasa paling pantas mengatur duniaku.
Semua ada masanya,
Seperti gelapnya malam yang melahirkan cahaya bagi siang
Seperti ulat yang jadi kupu-kupu
Aku berharap inilah masaku bermetaforfosa
Berpuasa dari banyak hal yang memang tidak semestinya dilakukan
Tak apa, mungkin terlihat sedikit menjijikkan
dilihat sebagai kepompong yang begitu apa adanya dalam rupa
Ya, karena lagi-lagi semua ada masanya untuk jadi lebih baik.
#neo















